Sabtu , 28 Maret 2026

Apa itu Fimosis? Ini Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Apa itu Fimosis? Ini Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Fimosis adalah kelainan struktur penis berupa melekatnya kulup pada kepala penis. Fimosis adalah kondisi yang normal pada anak-anak. Namun, bila terjadi pada orang dewasa, fimosis bisa menjadi tanda dari suatu penyakit, seperti radang kepala penis, eksim, psoriasis, hingga diabetes.

Mari simak ulasan lengkap mengenai penyebab, gejala, hingga cara mengatasi fimosis melalui artikel di bawah ini.

Apa itu Fimosis?

Fimosis adalah kondisi medis pada pria yang belum disunat yakni berupa melekatnya kulit kepala penis (kulup) sehingga tidak dapat ditarik hingga ke belakang kepala penis. Berdasarkan kondisinya, fimosis terbagi menjadi dua jenis, yaitu fisiologis dan patologis.

  • Fisiologis, yaitu jenis fimosis yang umum terjadi pada anak-anak berusia 3 tahun ke bawah. Fimosis fisiologis merupakan kondisi yang normal dan dapat hilang dengan sendirinya.
  • Patologis, yaitu jenis fimosis pada pria dewasa yang belum disunat dan kerap dikaitkan dengan balanitis xerotica obliterans (peradangan atau inflamasi pada preputium, kepala penis, dan uretra).

Penyebab Fimosis

Pada bayi, balita, dan anak laki-laki, fimosis terjadi karena kulup secara alamiah akan menempel pada kepala penis selama belum disunat. Umumnya, fimosis pada anak dapat menghilang seiring dengan pertambahan usia. Namun, pada beberapa kasus, kondisi fimosis ini dapat menyebabkan penyumbatan dan peradangan pada penis.

Sementara itu, penyakit fimosis pada remaja dan pria dewasa dapat muncul karena kondisi medis tertentu, seperti:

  • Penuaan. Proses penuaan membuat produksi kolagen menurun sehingga dapat menyebabkan kulit kepala penis menjadi tidak elastis.
  • Jaringan parut. Jaringan parut yang muncul karena cedera atau infeksi di sekitar kulup dapat menurunkan elastisitas kulit kepala penis.
  • Penumpukan smegma. Penumpukan smegma (bercak putih yang terbentuk dari sel kulit mati, keringat, dan kotoran) berisiko menyebabkan kulup melekat dan tidak dapat ditarik ke belakang kepala penis.

Faktor Risiko Fimosis

Adapun sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya fimosis adalah sebagai berikut:

  • Cedera fisik pada penis.
  • Radang kepala penis.
  • Mengidap infeksi atau penyakit menular seksual.
  • Mengidap penyakit kulit, seperti eksim, lichen sclerosus, dan psoriasis.
  • Diabetes.
  • Menggunakan kateter urine berulang kali.

Gejala Fimosis

Gejala utama dari fimosis adalah melekatnya kulit kulup pada kepala penis. Bila terjadi pada anak-anak, kulup tersebut dapat meregang seiring dengan pertambahan usia.

Sementara itu, jika dialami oleh remaja atau orang dewasa, gejala umum dari penyakit fimosis adalah sebagai berikut:

  • Sensasi gatal dan nyeri pada kepala penis.
  • Kepala penis merah dan membengkak.
  • Nyeri saat buang air kecil.
  • Nyeri saat berhubungan intim.
  • Penurunan hasrat seksual.

Komplikasi Fimosis

Bila tidak ditangani dengan tepat, fimosis berisiko menimbulkan berbagai macam komplikasi, di antaranya:

  • Fimosis berulang.
  • Balanitis.
  • Posthitis.
  • Nekrosis atau kematian jaringan kepala penis.

Diagnosis Fimosis

Pada dasarnya, dokter dapat mendiagnosis fimosis melalui wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Melalui tindakan ini, dokter akan memeriksa penis pasien apakah terdapat perlengketan pada kulup dan tidak bisa ditarik ke belakang. Di samping itu, dokter juga dapat memastikan penyebab fimosis dengan melakukan sejumlah pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Tes urine, yaitu prosedur pemeriksaan dengan mengambil sampel urine untuk mendeteksi kemungkinan infeksi bakteri atau jamur.
  • Tes darah untuk mendiagnosis fimosis yang disebabkan oleh penyakit diabetes.

Cara Mengatasi Fimosis

Pengobatan fimosis cenderung beragam menyesuaikan dengan tingkat keparahan dan usia pasien. Namun, sejumlah tindakan medis yang umum dilakukan dokter untuk menangani fimosis adalah sebagai berikut:

  1. Pemberian Obat-Obatan

Untuk meredakan gejala fimosis, dokter akan meresepkan kortikosteroid topikal dalam bentuk salep, krim, atau gel. Obat ini akan bekerja dengan meningkatkan elastisitas kulup agar lebih mudah ditarik ke belakang kepala penis.

Selain itu, dokter juga dapat meresepkan krim antibiotik atau antijamur apabila fimosis disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur.

  1. Sunat

Jika fimosis menyebabkan peradangan pada kepala penis (balanitis) atau infeksi saluran kemih berulang, dokter akan menyarankan pasien untuk melakukan sunat (operasi pelepasan kulup yang menutupi ujung kepala penis).

Cara Mencegah Fimosis

Utamanya, fimosis pada orang dewasa dapat dicegah dengan menjaga kebersihan penis serta menghindari faktor risikonya. Adapun sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya fimosis adalah sebagai berikut:

  • Melakukan sunat secara dini.
  • Membersihkan penis menggunakan air bersih secara perlahan.
  • Melakukan hubungan seksual yang aman untuk mencegah infeksi menular seksual.

 

About ners_umkudus_12102018

Check Also

jadwal ners 2-7 maret 2026

hasil try out ukom

Laporan_Peserta_PFN_TO_07_Feb_2026_Universitas_Muhammadiyah_Kudus