Obstruksi Usus – Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Obstruksi usus adalah salah satu gangguan dalam saluran pencernaan yang terjadi akibat adanya penyumbatan dalam usus, baik usus besar maupun usus halus. Kondisi ini menyebabkan makanan dan cairan tidak bisa melewati usus dengan baik dan menimbulkan tekanan pada usus. Akibatnya muncul sejumlah gejala, seperti perut kembung hingga gangguan pencernaan.
Mari ketahui lebih lanjut mengenai kondisi obstruksi usus dalam ulasan di bawah ini.
Apa itu Obstruksi Usus?
Obstruksi usus adalah kondisi ketika usus mengalami penyumbatan, baik pada usus besar maupun usus halus. Kondisi ini biasanya terjadi karena sumbatan makanan, feses, atau sumbatan dari luar usus yang menekan rongga usus, seperti tumor atau masa yang lain.
Penyumbatan di usus bisa terjadi sebagian atau total. Obstruksi total dapat menyebabkan penderitanya kesulitan buang gas atau buang air besar. Sedangkan, obstruksi sebagian sering kali memicu terjadinya gangguan pencernaan, seperti diare.
Ketika terjadi penyumbatan, makanan, cairan, asam lambung, dan gas akan menumpuk pada area tersebut dan menimbulkan tekanan. Apabila tekanan yang terjadi cukup besar, maka usus bisa pecah sehingga bakteri berbahaya dapat masuk ke rongga perut.
Bakteri yang masuk ke rongga perut dapat memicu kondisi yang berbahaya, sehingga meningkatkan risiko infeksi pada usus. Apabila dibiarkan dalam waktu lama, jaringan pada bagian usus yang mengalami obstruksi akan mati dan menyebabkan komplikasi.
Penyebab Obstruksi Usus
Berdasarkan penyebabnya, obstruksi di usus terbagi menjadi dua jenis, yaitu mekanik dan nonmekanik. Berikut masing-masing penjelasannya.
Obstruksi Usus Mekanik
Obstruksi usus mekanik terjadi akibat penyumbatan pada usus. Penyumbatan ini dapat disebabkan oleh perlengketan usus yang biasanya terjadi setelah operasi panggul atau perut. Di samping itu, beberapa kondisi lain yang dapat memicu kondisi ini adalah:
- Radang usus, seperti penyakit Crohn.
- Penumpukan feses.
- Kanker usus besar.
- Kanker indung telur.
- Penumpukan feses di dalam usus pada bayi yang baru lahir (meconium plug).
- Penyempitan usus akibat peradangan atau jaringan parut.
- Diverkulitis.
- Usus yang terpelintir (volvulus).
- Usus yang melipat ke dalam (intususepsi).
- Kelainan struktur usus, biasanya pada bayi baru lahir.
- Tumor usus.
- Batu empedu.
- Benda asing yang tertelan, terutama pada anak-anak.
- Hernia.
Obstruksi Usus Nonmekanik
Sementara itu, obstruksi usus nonmekanik disebabkan oleh adanya gangguan pada mekanisme kontraksi usus besar atau usus kecil. Sejumlah kondisi yang dapat memicu terjadinya obstruksi usus nonmekanik adalah:
- Gangguan saraf, misalnya penyakit Parkinson atau multiple sclerosis.
- Hipotiroidisme.
- Efek samping obat-obatan, seperti opioid atau antidepresan.
- Penyakit ginjal atau paru-paru.
- Iskemia.
- Operasi di area perut atau panggul.
- Peradangan saluran pencernaan, seperti gastroenteritis atau penyakit usus buntu.
- Gangguan elektrolit, misalnya kekurangan kalium.
- Diabetes melitus.
- Penyakit Hirschsprung.
Gejala Obstruksi Usus
Beberapa gejala yang umumnya terjadi akibat penyumbatan pada usus adalah sebagai berikut:
- Menurunnya nafsu makan.
- Mual dan muntah.
- Berkurangnya suara bising pada perut.
- Pembengkakan pada perut.
- Diare.
- Kesulitan BAB atau sembelit.
- Perut kembung.
- Nyeri pada perut.
- Kesulitan buang angin.
Diagnosis Obstruksi Usus
Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis terkait gejala dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, utamanya di bagian perut. Biasanya, dokter akan meminta pasien untuk melakukan pemeriksaan penunjang, seperti:
- Tes darah, untuk mengukur jumlah sel darah, kadar elektrolit, serta fungsi hati dan ginjal.
- Rontgen atau CT Scan perut, untuk mengetahui lokasi penyumbatan.
- Tes barium enema, untuk melihat bagian dalam usus secara lebih jelas.
- Kolonoskopi, untuk mengamati kondisi usus besar.
- Endoskopi, untuk mengatasi kondisi sistem pencernaan atas, seperti usus halus, lambung, dan kerongkongan.
Komplikasi Obstruksi Usus
Apakah obstruksi usus bisa sembuh? Kondisi ini dapat disembuhkan, namun jika dibiarkan dalam waktu yang lama, obstruksi usus dapat memicu komplikasi berbahaya, seperti:
- Kematian jaringan akibat obstruksi yang menghalangi aliran darah ke bagian usus. Kematian jaringan dapat menyebabkan robeknya dinding usus serta infeksi.
- Peritonitis, yaitu infeksi pada rongga perut. Kondisi ini memerlukan penanganan dan operasi sesegera mungkin.
- Beberapa komplikasi lainnya adalah sepsis, kerusakan organ, hingga kematian.
Pengobatan Obstruksi Usus
Pengobatan kondisi ini disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Penderita penyumbatan di usus biasanya disarankan untuk melakukan rawat inap atau operasi, tergantung dari keparahan kondisinya. Pasien rawat inap akibat obstruksi di usus akan mendapatkan tindakan berupa:
- Pemasangan selang dari hidung agar isi lambung bisa tersalurkan keluar, sehingga pembengkakan pada perut berkurang.
- Pemasangan kateter untuk membantu pasien buang air kecil.
- Pemberian cairan infus agar kadar elektrolit dalam tubuh pasien kembali terpenuhi.
Prosedur operasi biasanya akan dilakukan apabila pasien mengalami obstruksi akibat perlengketan yang menyebar luas dan tumor berukuran besar. Sementara itu, dokter akan melakukan operasi lubang kunci (laparoskopi) untuk obstruksi akibat infeksi dan tumor kecil.
Beberapa jenis operasi untuk mengobati penyumbatan di usus di antaranya:
- Kolektomi: Operasi pengangkatan sebagian usus.
- Kolostomi: Pembuatan lubang di dinding perut sebagai jalan keluarnya feses.
- Revaskularisasi: Prosedur pengembalian aliran darah pada usus dengan cara pembedahan atau penyuntikan obat.
- Pemasangan stent pada usus: Tujuannya untuk membuat saluran usus tetap terbuka dan mencegah kambuhnya obstruksi.
Cara Mencegah Obstruksi Usus
Penyumbatan di usus dapat dicegah dengan menjaga kesehatan sistem pencernaan. Adapun beberapa kebiasaan yang dapat Anda terapkan adalah sebagai berikut:
- Rajin mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun, khususnya sebelum makan atau memegang makanan.
- Mengonsumsi makanan yang terjaga kebersihannya.
- Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, salah satunya makanan tinggi serat.
- Mencukupi kebutuhan cairan tubuh.
- Rutin berolahraga.
- Menghindari rokok dan konsumsi minuman beralkohol.
Prodi Profesi Ners UMKU Universitas Muhammadiyah Kudus